Senin, 28 September 2015

ASUHAN KEPERAWATAN PENDARAHAN POST PARTUM



BAB I
PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG
Jika kita berbicara tentang persalinan sudah pasti berhubungan dengan perdarahan, karena semua persalinan baik pervaginam ataupun perabdominal (sectio cesarea ) selalu disertai perdarahan.
Pada persalinan pervaginam perdarahan dapat terjadi sebelum, selama ataupun sesudah persalinan. Perdarahan bersama-sama infeksi dan gestosis merupakan tiga besar penyebab utama langsung dari kematian maternal.
 Kematian maternal adalah kematian seorang wanita waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan.
 Sebab-sebab kematian ini dapat dibagi dalam 2 golongan, yakni yang langsung disebabkan oleh komplikasi-komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas, dan sebab-sebab lain seperti penyakit jantung, kanker, dan lain sebagainya.
Suatu perdarahan dikatakan fisiologis apabila hilangnya darah tidak melebihi 500 cc pada persalinan pervaginam dan tidak lebih dari 1000 cc pada sectio cesarea. Perlu diingat bahwa perdarahan yang terlihat pada waktu persalinan sebenarnya hanyalah setengah dari perdarahan yang sebenarnya. Seringkali sectio cesarea menyebabkan perdarahan yang lebih banyak, harus diingat kalau narkotik akan mengurangi efek vasokonstriksi dari pembuluh darah.
B.  RUMUSAN MASALAH

1.      Apakah penyebab pendarahan post partum?
2.      Faktor apa saja yang mempengaruhi pendarahan post partum?
3.      Apa saja pencegahan untuk menghindari pendarahan post partum?

C.  TUJUAN
1.    Untuk mencegah kematian pada saat ibu melahirkan.
2.    Untuk mengetahui apa saja faktor penyebab pendarahan post partum.
3.    Untuk mengetahui tanda dan gejala penyebab pendarahan post partum.






BAB II
PEMBAHASAN

A.  DEFINISI

      Perdarahan post partum merupakan kehilangan darah ≥ 500 ml setelah kelahiran bayi dan palsenta. Pendarahan post partum dibagi menjadi 2 yaitu:
1.      Perdarahan post partum primer (early post partum hemorrhage) yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama setelah anak lahir.
2.      Perdarahan postpartum sekunder (late postpartum hemorrhage) yaitu pendarahan  yang terjadi antara 24 jam dan 6 minggu setelah anak lahir

B.  EPIDEMIOLOGI

Kira-kira 40% ibu hamil (bumil) mengalami masalah kesehatan yang berkaitan dengan kehamilan; dan 15% dari semua bumil menderita komplikasi jangka panjang atau yang mengancam jiwa. World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa dalam tahun 1995 hampir 515.000 bumil meninggal karena komplikasi kehamilan dan melahirkan. Sebagian besar kematian tersebut terjadi di negara-negara berkembang, karena sering perempuan kurang mendapat akses terhadap perawatan penyelamatan hidup (life-saving care).

Di negara berkembang, perempuan cenderung lebih mendapat perawatan antenatal atau perawatan sebelum melahirkan dibandingkan mendapat perawatan kebidanan yang seharusnya diterima selama persalinan atau pasca persalinan

C.  ETIOLOGI

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perdarahan post partum terdiri dari faktor predisposisi, faktor langsung dan faktor pendukung.

 Faktor predisposisi antara lain:

1.      Umur
Wanita yang melahirkan anak pada usia lebih dari 35 tahun merupakan faktor predisposisi terjadinya perdarahan post partum yang dapat mengakibatkan kematian maternal. Hal ini dikarenakan pada usia diatas 35 tahun fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami penurunan dibandingkan fungsi reproduksi normal.


2.      Paritas
Salah satu penyebab perdarahan post partum adalah multiparitas.Paritas menunjukan jumlah kehamilan terdahulu yang telah mencapai batas viabilitas dan telah dilahirkan.
3.      Anemia
Anemia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan penurunan nilaihemoglobin di bawah nilai normal, dikatakan anemia jika kadar hemoglobin kurang dari 11g/dL. Kekurangan hemoglobin dalam darah dapat menyebabkan komplikasi lebih serius bagi ibu baik dalam kehamilan, persalinan, dan nifas.

4.      Riwayat persalinan
Riwayat persalinan di masa lampau sangat berhubungan dengan hasil kehamilan dan persalinan berikutnya. Bila riwayat persalinan yang lalu buruk petugas harus waspada terhadap terjadinya komplikasi dalam persalinan yang akan berlangsung. Riwayat persalinan buruk ini dapat berupa abortus, kematian janin, eklampsi dan preeklampsi, sectio caesarea, persalinan sulit atau lama, janin besar, infeksi dan pernah mengalami perdarahan ante partum dan post partum.

5.      Bayi makrosomia
Bayi besar adalah bayi lahir yang beratnya lebih dari 4000 gram. Menurut kepustakaan bayi yang besar baru dapat menimbulkan dytosia kalau beratnya melebihi 4500 gram.
Faktor langsung antara lain:
1.      Atonia uteri
Atonia uteri adalah suatu keadaan dimana lemahnya kontraksi rahim yang menyebabkan uterus tidak dapat menghentikan perdarahan yang terjadi dari tempat implantasi plasenta setelah bayi dan plasenta lahir.

2.      Retensio plasenta
Plasenta tetap tertinggal dalam uterus setengah jam setelah anak lahir.

3.      Inversio uteri
Inversio uteri merupakan suatu keadaan dimana lapisan dalam uterus (endometrium) turun dan keluar lewat ostium uteri eksternum, yang dapat bersifat inkomplit sampai komplit.

Faktor pendukung antara lain:
1.      Sarana dan prasarana
2.      Transportasi
3.      Tenaga kesehatan

D.  PATOFISIOLOGI

Dalam persalinan pembuluh darah yang ada di uterus melebar untuk meningkatkan sirkulasi ke sana, atoni uteri dan subinvolusi uterus menyebabkan kontraksi uterus menurun sehingga pembuluh darah yang melebar tadi tidak menutup sempurna sehingga perdarahan terjadi terus menerus. Trauma jalan lahir seperti epiostomi yang lebar, laserasi perineum, dan rupture uteri juga menyebabkan perdarahan karena terbukanya pembuluh darah, penyakit darah pada ibu;  misalnya afibrinogemia atau hipofibrinogemia karena tidak ada atau kurangnya fibrin untuk membantu proses pembekuan darah juga merupakan penyebab dari perdarahan postpartum. Perdarahan yang sulit dihentikan bisa mendorong pada keadaan shock hemoragik.

E.  MANIFESTASI KLINIS

1.      Kehilangan darah dalam jumlah yang banyak (> 500 ml)
2.      Nadi lemah dan pusing
3.      Pucat dan mual
4.      Lochea berwarna merah
5.      Haus
6.      Gelisah dan letih
7.      Syok hipovolemik
8.      Tekanan darah rendah
9.      Ekstremitas dingin

F.   PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium Hemoglobin, hematokrit, trombosit.

G. PENATALAKSANAAN

1.      Secara umum untuk kasus perdarahan adalah:
a.       Hentikan perdarahan.
b.      Cegah terjadinya syock.
c.       Ganti darah yang hilang.

2.      Penatalaksanaan khusus:
a.       Tahap I (perdarahan yang tidak terlalu banyak): Berikan uterotonika, urut/massage pada rahim, pasang gurita.
b.      Tahap II (perdarahan lebih banyak): Lakukan penggantian cairan (transfusI atau infus), prasat atau manuver (Zangemeister, frits), kompresi bimanual, kompresi aorta, tamponade uterovaginal, menjepit arteri uterina.

H.  PENKAJIAN KEPERAWATAN

1.      Riwayat menstruasi meliputi: Menarche, lamanya siklus, banyaknya, baunya , keluhan waktu haid, HPHT
2.      Riwayat perkawinan meliputi : Usia kawin, kawin yang keberapa, Usia mulai hamil.
3.      Riwayat hamil, persalinan dan nifas yang lalu.
4.      Riwayat Kehamilan sekarang
5.      .Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan tanda-tanda vital
a.       Suhu badan, biasanya meningkat sampai 38C dianggap normal.
b.      Nadi, akan meningkat cepat karena nyer
c.       Tekanan darah biasanya stabil, memperingan hipovolemia
d.      Pernafasan juga menjadi tidak normal.

I.     DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.      Resiko tinggi terjadinya infeksi b/d gangguan pembentukan sel darah putih.
2.      Resiko terjadinya anemia b/d efek dari perdarahan.
3.      Resiko terjadinya syock hipovolemik b/d perdarahan yang terjadi secara terus menerus.
4.      Resiko terjadinya asidosis metabolik b/d penurunan jumlah darah dalam kapiler.

J.    PENCEGAHAN DAN MENEGEMEN

1.Pencegahan Perdarahan Postpartum
a.       Perawatan masa kehamilan
Mencegah atau sekurang-kurangnya bersiap siaga pada kasus-kasus yang disangka akan terjadi perdarahan adalah penting. Tindakan pencegahan tidak saja dilakukan sewaktu bersalin tetapi sudah dimulai sejak ibu hamil dengan melakukan antenatal care yang baik. Menangani anemia dalam kehamilan adalah penting, ibu-ibu yang mempunyai predisposisi atau riwayat perdarahan postpartum sangat dianjurkan untuk bersalin di rumah sakit.
b.      Persiapan persalinan
 Di rumah sakit diperiksa keadaan fisik, keadaan umum, kadar Hb, golongan darah, dan bila memungkinkan sediakan donor darah dan dititipkan di bank darah. Pemasangan cateter intravena dengan lobang yang besar untuk persiapan apabila diperlukan transfusi. Untuk pasien dengan anemia berat sebaiknya langsung dilakukan transfusi. Sangat dianjurkan pada pasien dengan resiko perdarahan postpartum untuk menabung darahnya sendiri dan digunakan saat persalinan
c.       Persalinan
Setelah bayi lahir, lakukan massae uterus dengan arah gerakan circular atau maju mundur sampai uterus menjadi keras dan berkontraksi dengan baik. Massae yang berlebihan atau terlalu keras terhadap uterus sebelum, selama ataupun sesudah lahirnya plasenta bisa mengganggu kontraksi normal myometrium dan bahkan mempercepat kontraksi akan menyebabkan kehilangan darah yang berlebihan dan memicu terjadinya perdarahan postpartum
d.      Kala tiga dan Kala empat
1)      Uterotonica dapat diberikan segera sesudah bahu depan dilahirkan. Study memperlihatkan penurunan insiden perdarahan postpartum pada pasien yang mendapat oxytocin setelah bahu depan dilahirkan, tidak didapatkan peningkatan insiden terjadinya retensio plasenta. Hanya saja lebih baik berhati-hati pada pasien dengan kecurigaan hamil kembar apabila tidak ada USG untuk memastikan. Pemberian oxytocin selama kala tiga terbukti mengurangi volume darah yang hilang dan kejadian perdarahan postpartum sebesar 40%.
2)       Pada umumnya plasenta akan lepas dengan sendirinya dalam 5 menit setelah bayi lahir. Usaha untuk mempercepat pelepasan tidak ada untungnya justru dapat menyebabkan kerugian. Pelepasan plasenta akan terjadi ketika uterus mulai mengecil dan mengeras, tampak aliran darah yang keluar mendadak dari vagina, uterus terlihat menonjol ke abdomen, dan tali plasenta terlihat bergerak keluar dari vagina. Selanjutnya plasenta dapat keluarkan dengan cara menarik tali pusat secra hati-hati. Segera sesudah lahir plasenta diperiksa apakah lengkap atau tidak. Untuk “ manual plasenta “ ada perbedaan pendapat waktu dilakukannya manual plasenta. Apabila sekarang didapatkan perdarahan adalah tidak ada alasan untuk menunggu pelepasan plasenta secara spontan dan manual plasenta harus dilakukan tanpa ditunda lagi. Jika tidak didapatkan perdarahan, banyak yang menganjurkan dilakukan manual plasenta 30 menit setelah bayi lahir. Apabila dalam pemeriksaan plasenta kesan tidak lengkap, uterus terus di eksplorasi untuk mencari bagian-bagian kecil dari sisa plasenta.
3)      Lakukan pemeriksaan secara teliti untuk mencari adanya perlukaan jalan lahir yang dapat menyebabkan perdarahan dengan penerangan yang cukup. Luka trauma ataupun episiotomi segera dijahit sesudah didapatkan uterus yang mengeras dan berkontraksi dengan baik




BAB III
KESIMPULAN
Perdarahan adalah salah satu penyebab utama langsung kematian materna terutama di Negara yang kurang berkenbang perdarahan merupakan penyebab terbesar kematian maternal. Perdarahan pasca persalinan adalah perdarahan 500 cc atau lebih yang terjadi setelah anak lahir. Perdarahan dapat terjadi secar massif dan cepat, atau secara perlahan – lahan tapi secara terus menerus. Perdarahan hanyalah gejala, harus dicari tahu penyebabnya untuk memberikan pertolongan sesuai penyebabnya.








DAFTAR PUSTAKA

Dengan, P., Perdarahan, K., & Partum, P. (2011). HEMORARGE POSTPARTUM. MEDICINE, II, 8
Fak, F. S. K., & Kusuma, W. (2010). Perdarahan post partum. KESEHATAN, 1–18.
Ib, K. (2002). MENCEGAH PENDARAHAN PASCA PERSALINAN. KESETAN, 19(September 2001), 6.
Keperawatan, A., Setio, S., & Bungo, M. (2009). Hemoragi post partum. KESETAN, IV, 8.
.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar