BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Jika
kita berbicara tentang persalinan sudah pasti berhubungan dengan perdarahan,
karena semua persalinan baik pervaginam ataupun perabdominal (sectio cesarea )
selalu disertai perdarahan.
Pada
persalinan pervaginam perdarahan dapat terjadi sebelum, selama ataupun sesudah
persalinan. Perdarahan bersama-sama infeksi dan gestosis merupakan tiga besar
penyebab utama langsung dari kematian maternal.
Kematian maternal adalah kematian seorang
wanita waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab
apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri
kehamilan.
Sebab-sebab kematian ini dapat dibagi dalam 2
golongan, yakni yang langsung disebabkan oleh komplikasi-komplikasi kehamilan,
persalinan dan nifas, dan sebab-sebab lain seperti penyakit jantung, kanker,
dan lain sebagainya.
Suatu
perdarahan dikatakan fisiologis apabila hilangnya darah tidak melebihi 500 cc
pada persalinan pervaginam dan tidak lebih dari 1000 cc pada sectio cesarea. Perlu
diingat bahwa perdarahan yang terlihat pada waktu persalinan sebenarnya hanyalah
setengah dari perdarahan yang sebenarnya. Seringkali sectio cesarea menyebabkan
perdarahan yang lebih banyak, harus diingat kalau narkotik akan mengurangi efek
vasokonstriksi dari pembuluh darah.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
Apakah penyebab pendarahan post partum?
2.
Faktor apa saja yang mempengaruhi
pendarahan post partum?
3.
Apa saja pencegahan untuk menghindari
pendarahan post partum?
C. TUJUAN
1. Untuk
mencegah kematian pada saat ibu melahirkan.
2. Untuk
mengetahui apa saja faktor penyebab pendarahan post partum.
3. Untuk
mengetahui tanda dan gejala penyebab pendarahan post partum.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI
Perdarahan post partum merupakan kehilangan darah ≥ 500 ml setelah
kelahiran bayi dan palsenta. Pendarahan
post partum dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Perdarahan
post partum primer (early post partum hemorrhage) yaitu perdarahan yang terjadi
dalam 24 jam pertama setelah anak lahir.
2. Perdarahan
postpartum sekunder (late postpartum hemorrhage) yaitu pendarahan yang terjadi antara 24 jam dan 6 minggu
setelah anak lahir
B. EPIDEMIOLOGI
Kira-kira 40% ibu hamil
(bumil) mengalami masalah kesehatan yang berkaitan dengan kehamilan; dan 15%
dari semua bumil menderita komplikasi jangka panjang atau yang mengancam jiwa. World
Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa dalam tahun 1995 hampir 515.000
bumil meninggal karena komplikasi kehamilan dan melahirkan. Sebagian besar
kematian tersebut terjadi di negara-negara berkembang, karena sering perempuan
kurang mendapat akses terhadap perawatan penyelamatan hidup (life-saving care).
Di negara berkembang,
perempuan cenderung lebih mendapat perawatan antenatal atau perawatan sebelum
melahirkan dibandingkan mendapat perawatan kebidanan yang seharusnya diterima
selama persalinan atau pasca persalinan
C. ETIOLOGI
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
perdarahan post partum terdiri dari faktor predisposisi, faktor langsung dan
faktor pendukung.
Faktor
predisposisi antara lain:
1. Umur
Wanita yang melahirkan anak pada usia
lebih dari 35 tahun merupakan faktor predisposisi terjadinya perdarahan post
partum yang dapat mengakibatkan kematian maternal. Hal ini dikarenakan pada
usia diatas 35 tahun fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami penurunan
dibandingkan fungsi reproduksi normal.
2. Paritas
Salah satu penyebab perdarahan post
partum adalah multiparitas.Paritas menunjukan jumlah kehamilan terdahulu yang
telah mencapai batas viabilitas dan telah dilahirkan.
3. Anemia
Anemia adalah suatu keadaan yang
ditandai dengan penurunan nilaihemoglobin di bawah nilai normal, dikatakan
anemia jika kadar hemoglobin kurang dari 11g/dL. Kekurangan hemoglobin dalam
darah dapat menyebabkan komplikasi lebih serius bagi ibu baik dalam kehamilan,
persalinan, dan nifas.
4.
Riwayat persalinan
Riwayat persalinan di masa lampau sangat
berhubungan dengan hasil kehamilan dan persalinan berikutnya. Bila riwayat
persalinan yang lalu buruk petugas harus waspada terhadap terjadinya komplikasi
dalam persalinan yang akan berlangsung. Riwayat persalinan buruk ini dapat
berupa abortus, kematian janin, eklampsi dan preeklampsi, sectio caesarea,
persalinan sulit atau lama, janin besar, infeksi dan pernah mengalami
perdarahan ante partum dan post partum.
5.
Bayi makrosomia
Bayi besar adalah bayi lahir yang beratnya lebih dari
4000 gram. Menurut kepustakaan bayi yang besar baru dapat menimbulkan dytosia
kalau beratnya melebihi 4500 gram.
Faktor
langsung antara lain:
1. Atonia
uteri
Atonia uteri adalah suatu keadaan dimana
lemahnya kontraksi rahim yang menyebabkan uterus tidak dapat menghentikan
perdarahan yang terjadi dari tempat implantasi plasenta setelah bayi dan
plasenta lahir.
2. Retensio
plasenta
Plasenta tetap tertinggal dalam uterus setengah jam
setelah anak lahir.
3. Inversio
uteri
Inversio uteri merupakan suatu keadaan
dimana lapisan dalam uterus (endometrium) turun dan keluar lewat ostium uteri
eksternum, yang dapat bersifat inkomplit sampai komplit.
Faktor
pendukung antara lain:
1. Sarana
dan prasarana
2. Transportasi
3. Tenaga
kesehatan
D. PATOFISIOLOGI
Dalam persalinan pembuluh darah yang ada
di uterus melebar untuk meningkatkan sirkulasi ke sana, atoni uteri dan
subinvolusi uterus menyebabkan kontraksi uterus menurun sehingga pembuluh darah
yang melebar tadi tidak menutup sempurna sehingga perdarahan terjadi terus
menerus. Trauma jalan lahir seperti epiostomi yang lebar, laserasi perineum,
dan rupture uteri juga menyebabkan perdarahan karena terbukanya pembuluh darah,
penyakit darah pada ibu; misalnya afibrinogemia
atau hipofibrinogemia karena tidak ada atau kurangnya fibrin untuk membantu
proses pembekuan darah juga merupakan penyebab dari perdarahan postpartum.
Perdarahan yang sulit dihentikan bisa mendorong pada keadaan shock hemoragik.
E. MANIFESTASI KLINIS
1. Kehilangan
darah dalam jumlah yang banyak (> 500 ml)
2. Nadi
lemah dan pusing
3. Pucat
dan mual
4. Lochea
berwarna merah
5. Haus
6. Gelisah
dan letih
7. Syok
hipovolemik
8. Tekanan
darah rendah
9. Ekstremitas
dingin
F.
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Laboratorium Hemoglobin, hematokrit,
trombosit.
G. PENATALAKSANAAN
1. Secara
umum untuk kasus perdarahan adalah:
a. Hentikan
perdarahan.
b. Cegah
terjadinya syock.
c. Ganti
darah yang hilang.
2. Penatalaksanaan
khusus:
a. Tahap
I (perdarahan yang tidak terlalu banyak): Berikan uterotonika, urut/massage pada
rahim, pasang gurita.
b. Tahap
II (perdarahan lebih banyak): Lakukan penggantian cairan (transfusI atau
infus), prasat atau manuver (Zangemeister, frits), kompresi bimanual, kompresi
aorta, tamponade uterovaginal, menjepit arteri uterina.
H. PENKAJIAN KEPERAWATAN
1.
Riwayat menstruasi meliputi:
Menarche, lamanya siklus, banyaknya, baunya , keluhan waktu haid, HPHT
2.
Riwayat perkawinan meliputi : Usia
kawin, kawin yang keberapa, Usia mulai hamil.
3.
Riwayat hamil, persalinan dan nifas
yang lalu.
4.
Riwayat Kehamilan sekarang
5.
.Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan tanda-tanda vital
a. Suhu
badan, biasanya meningkat sampai 38C dianggap normal.
b. Nadi,
akan meningkat cepat karena nyer
c. Tekanan
darah biasanya stabil, memperingan hipovolemia
d. Pernafasan
juga menjadi tidak normal.
I.
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
1. Resiko
tinggi terjadinya infeksi b/d gangguan pembentukan sel darah putih.
2. Resiko
terjadinya anemia b/d efek dari perdarahan.
3. Resiko
terjadinya syock hipovolemik b/d perdarahan yang terjadi secara terus menerus.
4. Resiko
terjadinya asidosis metabolik b/d penurunan jumlah darah dalam kapiler.
J.
PENCEGAHAN
DAN MENEGEMEN
1.Pencegahan
Perdarahan Postpartum
a. Perawatan
masa kehamilan
Mencegah atau sekurang-kurangnya bersiap
siaga pada kasus-kasus yang disangka akan terjadi perdarahan adalah penting.
Tindakan pencegahan tidak saja dilakukan sewaktu bersalin tetapi sudah dimulai
sejak ibu hamil dengan melakukan antenatal care yang baik. Menangani anemia
dalam kehamilan adalah penting, ibu-ibu yang mempunyai predisposisi atau
riwayat perdarahan postpartum sangat dianjurkan untuk bersalin di rumah sakit.
b. Persiapan
persalinan
Di rumah sakit diperiksa keadaan fisik,
keadaan umum, kadar Hb, golongan darah, dan bila memungkinkan sediakan donor
darah dan dititipkan di bank darah. Pemasangan cateter intravena dengan lobang
yang besar untuk persiapan apabila diperlukan transfusi. Untuk pasien dengan
anemia berat sebaiknya langsung dilakukan transfusi. Sangat
dianjurkan pada pasien dengan resiko perdarahan postpartum untuk menabung
darahnya sendiri dan digunakan saat persalinan
c. Persalinan
Setelah bayi lahir, lakukan massae
uterus dengan arah gerakan circular atau maju mundur sampai uterus menjadi keras
dan berkontraksi dengan baik. Massae yang berlebihan atau terlalu keras
terhadap uterus sebelum, selama ataupun sesudah lahirnya plasenta bisa
mengganggu kontraksi normal myometrium dan bahkan mempercepat kontraksi akan
menyebabkan kehilangan darah yang berlebihan dan memicu terjadinya perdarahan
postpartum
d. Kala
tiga dan Kala empat
1) Uterotonica
dapat diberikan segera sesudah bahu depan dilahirkan. Study memperlihatkan
penurunan insiden perdarahan postpartum pada pasien yang mendapat oxytocin
setelah bahu depan dilahirkan, tidak didapatkan peningkatan insiden terjadinya
retensio plasenta. Hanya saja lebih baik berhati-hati pada pasien dengan
kecurigaan hamil kembar apabila tidak ada USG untuk memastikan. Pemberian
oxytocin selama kala tiga terbukti mengurangi volume darah yang hilang dan
kejadian perdarahan postpartum sebesar 40%.
2) Pada umumnya plasenta akan lepas dengan
sendirinya dalam 5 menit setelah bayi lahir. Usaha untuk mempercepat pelepasan
tidak ada untungnya justru dapat menyebabkan kerugian. Pelepasan plasenta akan
terjadi ketika uterus mulai mengecil dan mengeras, tampak aliran darah yang
keluar mendadak dari vagina, uterus terlihat menonjol ke abdomen, dan tali
plasenta terlihat bergerak keluar dari vagina. Selanjutnya plasenta dapat
keluarkan
dengan cara menarik tali pusat secra hati-hati. Segera sesudah
lahir plasenta diperiksa apakah lengkap atau tidak. Untuk “ manual plasenta “
ada perbedaan pendapat waktu dilakukannya manual plasenta. Apabila sekarang
didapatkan perdarahan adalah tidak ada alasan untuk menunggu pelepasan plasenta
secara spontan dan manual plasenta harus dilakukan tanpa ditunda lagi. Jika
tidak didapatkan perdarahan, banyak yang menganjurkan dilakukan manual plasenta
30 menit setelah bayi lahir. Apabila dalam pemeriksaan plasenta kesan tidak
lengkap, uterus terus di eksplorasi untuk mencari bagian-bagian kecil dari sisa
plasenta.
3) Lakukan
pemeriksaan secara teliti untuk mencari adanya perlukaan jalan lahir yang dapat
menyebabkan perdarahan dengan penerangan yang cukup. Luka trauma ataupun
episiotomi segera dijahit sesudah didapatkan uterus yang mengeras dan
berkontraksi dengan baik
BAB
III
KESIMPULAN
Perdarahan adalah salah
satu penyebab utama langsung kematian materna terutama di Negara yang kurang berkenbang
perdarahan merupakan penyebab terbesar kematian maternal. Perdarahan pasca
persalinan adalah perdarahan 500 cc atau lebih yang terjadi setelah anak lahir.
Perdarahan dapat terjadi secar massif dan cepat, atau secara perlahan – lahan
tapi secara terus menerus. Perdarahan hanyalah gejala, harus dicari tahu
penyebabnya untuk memberikan pertolongan sesuai penyebabnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Dengan, P., Perdarahan, K.,
& Partum, P. (2011). HEMORARGE POSTPARTUM. MEDICINE, II, 8
Fak, F. S. K., & Kusuma,
W. (2010). Perdarahan post partum. KESEHATAN, 1–18.
Ib, K. (2002). MENCEGAH
PENDARAHAN PASCA PERSALINAN. KESETAN, 19(September 2001), 6.
Keperawatan, A., Setio, S.,
& Bungo, M. (2009). Hemoragi post partum. KESETAN, IV, 8.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar