Senin, 28 September 2015

ASUHAN KEPERAWATAN PENDARAHAN POST PARTUM



BAB I
PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG
Jika kita berbicara tentang persalinan sudah pasti berhubungan dengan perdarahan, karena semua persalinan baik pervaginam ataupun perabdominal (sectio cesarea ) selalu disertai perdarahan.
Pada persalinan pervaginam perdarahan dapat terjadi sebelum, selama ataupun sesudah persalinan. Perdarahan bersama-sama infeksi dan gestosis merupakan tiga besar penyebab utama langsung dari kematian maternal.
 Kematian maternal adalah kematian seorang wanita waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan.
 Sebab-sebab kematian ini dapat dibagi dalam 2 golongan, yakni yang langsung disebabkan oleh komplikasi-komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas, dan sebab-sebab lain seperti penyakit jantung, kanker, dan lain sebagainya.
Suatu perdarahan dikatakan fisiologis apabila hilangnya darah tidak melebihi 500 cc pada persalinan pervaginam dan tidak lebih dari 1000 cc pada sectio cesarea. Perlu diingat bahwa perdarahan yang terlihat pada waktu persalinan sebenarnya hanyalah setengah dari perdarahan yang sebenarnya. Seringkali sectio cesarea menyebabkan perdarahan yang lebih banyak, harus diingat kalau narkotik akan mengurangi efek vasokonstriksi dari pembuluh darah.
B.  RUMUSAN MASALAH

1.      Apakah penyebab pendarahan post partum?
2.      Faktor apa saja yang mempengaruhi pendarahan post partum?
3.      Apa saja pencegahan untuk menghindari pendarahan post partum?

C.  TUJUAN
1.    Untuk mencegah kematian pada saat ibu melahirkan.
2.    Untuk mengetahui apa saja faktor penyebab pendarahan post partum.
3.    Untuk mengetahui tanda dan gejala penyebab pendarahan post partum.






BAB II
PEMBAHASAN

A.  DEFINISI

      Perdarahan post partum merupakan kehilangan darah ≥ 500 ml setelah kelahiran bayi dan palsenta. Pendarahan post partum dibagi menjadi 2 yaitu:
1.      Perdarahan post partum primer (early post partum hemorrhage) yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama setelah anak lahir.
2.      Perdarahan postpartum sekunder (late postpartum hemorrhage) yaitu pendarahan  yang terjadi antara 24 jam dan 6 minggu setelah anak lahir

B.  EPIDEMIOLOGI

Kira-kira 40% ibu hamil (bumil) mengalami masalah kesehatan yang berkaitan dengan kehamilan; dan 15% dari semua bumil menderita komplikasi jangka panjang atau yang mengancam jiwa. World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa dalam tahun 1995 hampir 515.000 bumil meninggal karena komplikasi kehamilan dan melahirkan. Sebagian besar kematian tersebut terjadi di negara-negara berkembang, karena sering perempuan kurang mendapat akses terhadap perawatan penyelamatan hidup (life-saving care).

Di negara berkembang, perempuan cenderung lebih mendapat perawatan antenatal atau perawatan sebelum melahirkan dibandingkan mendapat perawatan kebidanan yang seharusnya diterima selama persalinan atau pasca persalinan

C.  ETIOLOGI

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perdarahan post partum terdiri dari faktor predisposisi, faktor langsung dan faktor pendukung.

 Faktor predisposisi antara lain:

1.      Umur
Wanita yang melahirkan anak pada usia lebih dari 35 tahun merupakan faktor predisposisi terjadinya perdarahan post partum yang dapat mengakibatkan kematian maternal. Hal ini dikarenakan pada usia diatas 35 tahun fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami penurunan dibandingkan fungsi reproduksi normal.


2.      Paritas
Salah satu penyebab perdarahan post partum adalah multiparitas.Paritas menunjukan jumlah kehamilan terdahulu yang telah mencapai batas viabilitas dan telah dilahirkan.
3.      Anemia
Anemia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan penurunan nilaihemoglobin di bawah nilai normal, dikatakan anemia jika kadar hemoglobin kurang dari 11g/dL. Kekurangan hemoglobin dalam darah dapat menyebabkan komplikasi lebih serius bagi ibu baik dalam kehamilan, persalinan, dan nifas.

4.      Riwayat persalinan
Riwayat persalinan di masa lampau sangat berhubungan dengan hasil kehamilan dan persalinan berikutnya. Bila riwayat persalinan yang lalu buruk petugas harus waspada terhadap terjadinya komplikasi dalam persalinan yang akan berlangsung. Riwayat persalinan buruk ini dapat berupa abortus, kematian janin, eklampsi dan preeklampsi, sectio caesarea, persalinan sulit atau lama, janin besar, infeksi dan pernah mengalami perdarahan ante partum dan post partum.

5.      Bayi makrosomia
Bayi besar adalah bayi lahir yang beratnya lebih dari 4000 gram. Menurut kepustakaan bayi yang besar baru dapat menimbulkan dytosia kalau beratnya melebihi 4500 gram.
Faktor langsung antara lain:
1.      Atonia uteri
Atonia uteri adalah suatu keadaan dimana lemahnya kontraksi rahim yang menyebabkan uterus tidak dapat menghentikan perdarahan yang terjadi dari tempat implantasi plasenta setelah bayi dan plasenta lahir.

2.      Retensio plasenta
Plasenta tetap tertinggal dalam uterus setengah jam setelah anak lahir.

3.      Inversio uteri
Inversio uteri merupakan suatu keadaan dimana lapisan dalam uterus (endometrium) turun dan keluar lewat ostium uteri eksternum, yang dapat bersifat inkomplit sampai komplit.

Faktor pendukung antara lain:
1.      Sarana dan prasarana
2.      Transportasi
3.      Tenaga kesehatan

D.  PATOFISIOLOGI

Dalam persalinan pembuluh darah yang ada di uterus melebar untuk meningkatkan sirkulasi ke sana, atoni uteri dan subinvolusi uterus menyebabkan kontraksi uterus menurun sehingga pembuluh darah yang melebar tadi tidak menutup sempurna sehingga perdarahan terjadi terus menerus. Trauma jalan lahir seperti epiostomi yang lebar, laserasi perineum, dan rupture uteri juga menyebabkan perdarahan karena terbukanya pembuluh darah, penyakit darah pada ibu;  misalnya afibrinogemia atau hipofibrinogemia karena tidak ada atau kurangnya fibrin untuk membantu proses pembekuan darah juga merupakan penyebab dari perdarahan postpartum. Perdarahan yang sulit dihentikan bisa mendorong pada keadaan shock hemoragik.

E.  MANIFESTASI KLINIS

1.      Kehilangan darah dalam jumlah yang banyak (> 500 ml)
2.      Nadi lemah dan pusing
3.      Pucat dan mual
4.      Lochea berwarna merah
5.      Haus
6.      Gelisah dan letih
7.      Syok hipovolemik
8.      Tekanan darah rendah
9.      Ekstremitas dingin

F.   PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium Hemoglobin, hematokrit, trombosit.

G. PENATALAKSANAAN

1.      Secara umum untuk kasus perdarahan adalah:
a.       Hentikan perdarahan.
b.      Cegah terjadinya syock.
c.       Ganti darah yang hilang.

2.      Penatalaksanaan khusus:
a.       Tahap I (perdarahan yang tidak terlalu banyak): Berikan uterotonika, urut/massage pada rahim, pasang gurita.
b.      Tahap II (perdarahan lebih banyak): Lakukan penggantian cairan (transfusI atau infus), prasat atau manuver (Zangemeister, frits), kompresi bimanual, kompresi aorta, tamponade uterovaginal, menjepit arteri uterina.

H.  PENKAJIAN KEPERAWATAN

1.      Riwayat menstruasi meliputi: Menarche, lamanya siklus, banyaknya, baunya , keluhan waktu haid, HPHT
2.      Riwayat perkawinan meliputi : Usia kawin, kawin yang keberapa, Usia mulai hamil.
3.      Riwayat hamil, persalinan dan nifas yang lalu.
4.      Riwayat Kehamilan sekarang
5.      .Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan tanda-tanda vital
a.       Suhu badan, biasanya meningkat sampai 38C dianggap normal.
b.      Nadi, akan meningkat cepat karena nyer
c.       Tekanan darah biasanya stabil, memperingan hipovolemia
d.      Pernafasan juga menjadi tidak normal.

I.     DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.      Resiko tinggi terjadinya infeksi b/d gangguan pembentukan sel darah putih.
2.      Resiko terjadinya anemia b/d efek dari perdarahan.
3.      Resiko terjadinya syock hipovolemik b/d perdarahan yang terjadi secara terus menerus.
4.      Resiko terjadinya asidosis metabolik b/d penurunan jumlah darah dalam kapiler.

J.    PENCEGAHAN DAN MENEGEMEN

1.Pencegahan Perdarahan Postpartum
a.       Perawatan masa kehamilan
Mencegah atau sekurang-kurangnya bersiap siaga pada kasus-kasus yang disangka akan terjadi perdarahan adalah penting. Tindakan pencegahan tidak saja dilakukan sewaktu bersalin tetapi sudah dimulai sejak ibu hamil dengan melakukan antenatal care yang baik. Menangani anemia dalam kehamilan adalah penting, ibu-ibu yang mempunyai predisposisi atau riwayat perdarahan postpartum sangat dianjurkan untuk bersalin di rumah sakit.
b.      Persiapan persalinan
 Di rumah sakit diperiksa keadaan fisik, keadaan umum, kadar Hb, golongan darah, dan bila memungkinkan sediakan donor darah dan dititipkan di bank darah. Pemasangan cateter intravena dengan lobang yang besar untuk persiapan apabila diperlukan transfusi. Untuk pasien dengan anemia berat sebaiknya langsung dilakukan transfusi. Sangat dianjurkan pada pasien dengan resiko perdarahan postpartum untuk menabung darahnya sendiri dan digunakan saat persalinan
c.       Persalinan
Setelah bayi lahir, lakukan massae uterus dengan arah gerakan circular atau maju mundur sampai uterus menjadi keras dan berkontraksi dengan baik. Massae yang berlebihan atau terlalu keras terhadap uterus sebelum, selama ataupun sesudah lahirnya plasenta bisa mengganggu kontraksi normal myometrium dan bahkan mempercepat kontraksi akan menyebabkan kehilangan darah yang berlebihan dan memicu terjadinya perdarahan postpartum
d.      Kala tiga dan Kala empat
1)      Uterotonica dapat diberikan segera sesudah bahu depan dilahirkan. Study memperlihatkan penurunan insiden perdarahan postpartum pada pasien yang mendapat oxytocin setelah bahu depan dilahirkan, tidak didapatkan peningkatan insiden terjadinya retensio plasenta. Hanya saja lebih baik berhati-hati pada pasien dengan kecurigaan hamil kembar apabila tidak ada USG untuk memastikan. Pemberian oxytocin selama kala tiga terbukti mengurangi volume darah yang hilang dan kejadian perdarahan postpartum sebesar 40%.
2)       Pada umumnya plasenta akan lepas dengan sendirinya dalam 5 menit setelah bayi lahir. Usaha untuk mempercepat pelepasan tidak ada untungnya justru dapat menyebabkan kerugian. Pelepasan plasenta akan terjadi ketika uterus mulai mengecil dan mengeras, tampak aliran darah yang keluar mendadak dari vagina, uterus terlihat menonjol ke abdomen, dan tali plasenta terlihat bergerak keluar dari vagina. Selanjutnya plasenta dapat keluarkan dengan cara menarik tali pusat secra hati-hati. Segera sesudah lahir plasenta diperiksa apakah lengkap atau tidak. Untuk “ manual plasenta “ ada perbedaan pendapat waktu dilakukannya manual plasenta. Apabila sekarang didapatkan perdarahan adalah tidak ada alasan untuk menunggu pelepasan plasenta secara spontan dan manual plasenta harus dilakukan tanpa ditunda lagi. Jika tidak didapatkan perdarahan, banyak yang menganjurkan dilakukan manual plasenta 30 menit setelah bayi lahir. Apabila dalam pemeriksaan plasenta kesan tidak lengkap, uterus terus di eksplorasi untuk mencari bagian-bagian kecil dari sisa plasenta.
3)      Lakukan pemeriksaan secara teliti untuk mencari adanya perlukaan jalan lahir yang dapat menyebabkan perdarahan dengan penerangan yang cukup. Luka trauma ataupun episiotomi segera dijahit sesudah didapatkan uterus yang mengeras dan berkontraksi dengan baik




BAB III
KESIMPULAN
Perdarahan adalah salah satu penyebab utama langsung kematian materna terutama di Negara yang kurang berkenbang perdarahan merupakan penyebab terbesar kematian maternal. Perdarahan pasca persalinan adalah perdarahan 500 cc atau lebih yang terjadi setelah anak lahir. Perdarahan dapat terjadi secar massif dan cepat, atau secara perlahan – lahan tapi secara terus menerus. Perdarahan hanyalah gejala, harus dicari tahu penyebabnya untuk memberikan pertolongan sesuai penyebabnya.








DAFTAR PUSTAKA

Dengan, P., Perdarahan, K., & Partum, P. (2011). HEMORARGE POSTPARTUM. MEDICINE, II, 8
Fak, F. S. K., & Kusuma, W. (2010). Perdarahan post partum. KESEHATAN, 1–18.
Ib, K. (2002). MENCEGAH PENDARAHAN PASCA PERSALINAN. KESETAN, 19(September 2001), 6.
Keperawatan, A., Setio, S., & Bungo, M. (2009). Hemoragi post partum. KESETAN, IV, 8.
.





Minggu, 20 September 2015

ASUHAN KEPERAWATAN INFARK MIOKARD AKUT UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA




MAKALAH INFARK MIOKARDIAK AKUT
Pengampu : Arina Malia


Image result for logo ums


Makalah Ini Dibuat Guna Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Keperawatan Medikal Bedah


Disusun Oleh :
            1. Elviatus Sa’adah               (J200140005)
 2. Hastuti                                             (J200140029)
 3. Resky putro utomo           (J200140042)
 4. Arrisqy Herawati  (J200140025)



FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
2015








KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah dengan judul
INFARK MIOKARDIAK AKUTini dengan waktu yang telah ditentukan. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kemampuan Dasar Manusia. kami menyadari bahwa terselesaikannya makalah ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan pengarahan dari berbagai pihak. Untuk itu, kami menyampaikan terimakasih kepada Ibu Arina Amalia selaku dosen pengampu mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan kami. Kami berharap makalah yang sederhana ini dapat memberi manfaat bagi kita semua dalam mengembangkan ilmu pengetahuan terutama Keperawatan Medikal Bedah.








                                                                        Surakarta, 11 September 2015




                                                                                                            Penyusun





DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................... 1
DAFTAR ISI ................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 3
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 3
B. Rumusan Masalah ................................................................................................... 3
C. Tujuan ...................................................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN TEORI ......................................................................................... 4
A. Pengertian ............................................................................................................... 4
B. Etiologi .................................................................................................................... 4
C. Klasifikasi ................................................................................................................ 4
D. Tanda dan Gejala .................................................................................................... 5
E. Pathways ................................................................................................................. 7
F. Penatalaksanaan ....................................................................................................... 8
G. Pengkajian Keperawatan ......................................................................................... 8
H. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi ................................................................... 9
BAB III KESIMPULAN ............................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 9




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Infark Miokard Akut (IMA) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh penurunan aliran darah melalui satu atau lebih arteri koroner, mengakibatkan iskemia miokard dan nekrosis (Amin, H. Z. 2007). Infark miokard masih merupakan penyebab utama gagal jantung kongestif dan kematian (5,1%). Penyakit tersebut mengakibatkan kerusakan miokard yang progresif dan irreversible, sehingga pengobatan konvensional seperti terapi reperfusi tidak dapat mengatasi secara sempurna.
Penderita dengan IMA hendaknya segera mendapat pertolongan oleh karena angka kematian sangat tinggi, terutama dalam jam-jam pertama serangan. Adapun faktor-faktor yang mempermudah terjadinya IMA antara lain: merokok, hipertensi, obesitas.
Di Indonesia sejak sepuluh tahun terakhir IMA lebih sering ditemukan, apalagi dengan adanya fasilitas diagnostic dan unit-unit perawatan penyakit jantung koroner yang semakin tersebar merata. Kemajuan dalam pengobatan IMA di unit perawatan jantung koroner intensif berhasil menurunkan angka kematian IMA.

B.  Rumusan Maslah
1. Apa yang dimaksud dengan IMA?
2. Apa saja faktor pemicu terjadinya IMA?
3. Bagaimana proses terjadinya IMA?
4. Bagaimana cara mengatasi gangguan IMA?

C. Tujuan
1.          Untuk mengetahui faktor yang menyebabkan IMA.
2.          Untuk mengetahui cara mengatasi IMA.
3.          Utuk menambah informasi dan pengetahuan tentang IMA.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A.      PENGERTIAN
Infark Miokard Akut (IMA) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh penurunan aliran darah melalui satu atau lebih arteri koroner, mengakibatkan iskemia miokard dan nekrosis (Corwin,Elizabeth J.2009).

B.       ETIOLOGI

Terjadinya Infark Miokard Akut (IMA)  biasanya dikarenakan aterosklerosis
pembuluh darah koroner. Nekrosis miokard akut terjadi akibat penyumbatan
total arteri koronaria oleh trombus yang terbentuk pada plak aterosklerosis
yang tidak stabil. Juga sering mengikuti ruptur plak pada arteri koroner
dengan stenosis ringan. Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya IMA
antara lain: merokok, hipertensi, obesitas, hiperkolesterolemia, Diabetes
Mellitus, kepribadian yang neurotik (Corwin,Elizabeth J.2009).

C.       KLASIFIKASI
1.      Miokard Infark Subendokardial
Daerah subendokardial merupakan daerah miokard yang amat peka terhadap iskemia dan infark. Miokard infark subendokardial terjadi akibat aliran darah sebendokardial yang relatif menurun dalam waktu lama sebagai akibat perubahan derajat penyempitan arteri koroner atau dicetuskan oleh kondisi-kondisi seperti hipotensi, perdarahan dan hipoksia. Derajat nekrosis dapat bertambah bila disertai peningkatan kebutuhan oksigen miokard, misalnya akibat takikardia atau hipertrofi ventrikel. Walaupun pada mulanya gambaran klinis dapat relatif ringan, kecenderungan iskemia dan infark lebih jauh merupakan ancaman besar setelah pasien dipulangkan dari rumah sakit (Corwin,Elizabeth J.2009).
2.      Miokard Infark Transmural
Pada lebih dari 90% pasien miokard infark transmural berkaitan dengan trombosis koroner. Trombosis sering terjadi di daerah yang mengalami penyempitan arteriosklerotik. Penyebab lain lebih jarang ditemukan. Termasuk disini misalnya perdarahan dalam plaque aterosklerotik dengan hematom intramural, spasme yang umumnya terjadi di tempat aterosklerotik yang emboli koroner. Miokard infark dapat terjadi walau pembuluh koroner normal, tetapi hal ini amat jarang (Corwin,Elizabeth J.2009).

D.    TANDA DAN GEJALA

1.      Gejala klinis

Keluhan utama adalah sakit dada yang terutama dirasakan di daerah
sternum, bisa menjalar ke dada kiri atau kanan, ke rahang, ke bahu kiri dan
kanan dan pada lengan. Penderita melukiskan seperti tertekan, terhimpit,
diremas-remas atau kadang hanya sebagai rasa tidak enak di dada.Walau sifatnya dapat ringan ,tapi rasa sakit itu biasanya berlangsung lebih dari setengah jam. Jarang ada hubungannya dengan aktifitas serta tidak hilang dengan istirahat atau pemberian nitrat. Pada sejumlah penderita dapat timbul berbagai penyakitt: aritmia, renjatan kardiogenik, gagal jantung (Price,Sylvia A.dkk. 2006).




2.      Diagnosis

a)      Anamnesis

Adanya nyeri dada yang lamanya lebih dari 30 menit di daerah
prekordial, retrosternal dan menjalar ke lengan kiri, lengan kanan dan ke belakang interskapuler. Rasa nyeri seperti dicekam, diremas-remas, tertindih benda padat, tertusuk pisau atau seperti terbakar. Kadang-kadang rasa nyeri tidak ada dan penderita hanya mengeluh lemah, banyak keringat, pusing, palpitasi,dan perasaan akan mati (Price,Sylvia A.dkk. 2006).

b)      Pemerikasaan fisik

Penderita nampak sakit,muka pucat, kulit basah dan dingin. Tekanan darah bisa tinggi,normal atau rendah. Dapat ditemui bunyi jantung kedua yang pecah paradoksal, irama gallop. Kadang-kadang ditemukan pulsasi diskinetik yang tampak atau teraba di dinding dada pada IMA inferior (Price,Sylvia A.dkk. 2006).

c)      EKG

Pada EKG terdapat gambaran gelombang Q yang patologis serta
perubahan segmen ST-T dimana terdapat ST elevasi, ST depresi, dan T terbalik (Price,Sylvia A.dkk. 2006).

d)     Pemeriksaan laboratorium

Adanya peningkatan enzim SGOT, CPK, LDH. Apabila terdapat 3 dari 4 gejala tersebut di atas maka diagnose dari IMA dapat ditegakkan (Price,Sylvia A.dkk. 2006).
E.       PATHWAYS

Timbunan kolesterol lipid (ateroma plaque)di intima arteri besar
Penonjolan lumen pembuluh darah
Gangguan penyerapan sel-sel endotel lapisan dinding pembuluh darah
Sel endotel nekrotik menjadi jaringan parut
Penyempitan luummen darah
pembuluh darah
Penyumbatann aliran darah
Penurunan suplai darah (tidak adekuat)
iskemik miokard
Infark miokard



 



F.        PENATALAKSANAAN

Pengobatan ditujukan untuk sedapat mungkin memperbaiki kemballi aliran pembuluh koroner sehingga reperfusi dapat mencegah kerusakan miokard lebih lanjut serta mencegah kematian mendadak dengan memantau dan mengobati aritmia maligna. Adanya obat-obat trombolisis yang dapat diberikan sebelum dibawa ke rumah sakit, dapat menurunkan angka kematiansebesar 40%. Obat yang dipakai ialah streptokinase dengan cara pemberian:
1,5 juta unit streptokinase dilartkan dalam 100 ml dekstrosa, diberikan
intravena selama 1 jam (Udjianti,Wajan Juni.2010).
Terapi yang lain antara lain:
1.      Perawatan intensif dan mobilisasi
Penderita beristirahat dan diberikan diet makanan lunak serta jangan terlalu panas atau dingin.Bila perlu diberikan obat-obat penenang.
2.      Mengatasi nyeri
Obat pilihan untuk nyeri pada IMA adalah morphine dosis 5 mg( i.v.), bila tidak ada dapat diganti meperidine dengan dosis 75 mg( i.m). Preparat nitrat sub-lingual atau oral.
3.      Pemberian O2
Untuk menambah oksigenasi miokard.

G.      PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Tetapkan penatalaksanaan dasar untuk mendapatkan informasi tentang status terakhir pasien sehingga semua penyimpangan yang terjadi dapat segera diketahui (Udjianti,Wajan Juni.2010).

1.      Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko :
a.       Penyakit pembuluh darah arteri.
b.      Serangan jantung sebelumnya.
c.       Riwayat keluarga atas penyakit jantung/serangan jantung positif.
d.      Kolesterol serum tinggi (diatas 200 mg/L).
e.       Perokok
f.       Diet tinggi garam dan tinggi lemak.
g.      Kegemukan.( BB idealTB –100 ± 10 % )
h.      Wanita pasca menopause karena terapi estrogen.

2.      Pemeriksaan fisik berdasarkan pengkajian kardiovaskuler dapat menunjukan :
a.       Nyeri dada berkurang dengan istirahat atau pemberian nitrat (temuan yang paling penting) sering juga disertai :
1)   Perasaan ancaman pingsan dan atau kematian
2)   Diaforesis.
3)   Mual dan muntah kadang-kadang.
4)   Dispneu.
5)   Sindrom syok dalam berbagai tingkatan (pucat, dingin, kulit lembab atau basah, turunnya tekanan darah, denyut nadi yang cepat, berkurangnya nadi perifer dan bunyi jantung).
6)   Demam (dalam 24 – 48 jam ).

3.      Kaji nyeri dada sehubungan dengan :
a.       Faktor perangsang.
b.      Kualitas.
c.       Lokasi.
d.      Beratnya.

H.      DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
Diagnosa keperawatan adalah penilaian atau kesimpulan yang diambil dari pengkajian. Diagnosa yang sering muncul pada pasien dengan Infark Miocard Akut (IMA) adalah (Doenges, M. E., 2000; Carpenito, L. J., 2000)
1.      Nyeri akut berhubungan dengan refleks spasma otot sekunder terhadap kelainan visceral jantung
2.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan sistem traspor oksigen terhadap infark miocard
3.      Ansietas berhubungan denganancaman atau perubahan kesehatan dan status ekonomi
4.      Resiko tinggi terhadap curah jantung berhubungan dengan penurunan preload / peningkatan tahan vaskuler sistemik
5.      Resiko perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan atau penghentian aliaran darah
6.      Resiko tinggi tehadap kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan fungsi organ (ginjal)
7.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang fungsi jantung / implikasi penyakit jantung dan status kesehatan akan datang
8.       Pk: Syok kardiogenik
9.      Gangguan pola nafas tak efektif berhubungan dengan ketidak seimbangan suplai oksigen akibat disfungsi miokard

Intervensi yang dilakukan antara lain:
1.      Perawatan intensif dan mobilisasi
Penderita beristirahat dan diberikan diet makanan lunak serta jangan terlalu panas atau dingin.Bila perlu diberikan obat-obat penenang.
2.      Mengatasi nyeri
Obat pilihan untuk nyeri pada IMA adalah morphine dosis 5 mg( i.v.), bila tidak ada dapat diganti meperidine dengan dosis 75 mg( i.m). Preparat nitrat sub-lingual atau oral.
3.      Pemberian O2
Untuk menambah oksigenasi miokard





No
Diagnosa
Tujuan dan Kriteria Hasil
(NOC)
Intervensi
(NIC)

1
Pola nafas tidak efektif  b/d hiperventilasi, kecemasan
Setelah dilakukan askep selama 3x24 jam pola nafas klien menjadi efektif, dengan kriteria :
-       mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
-       Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)
-       Tanda –tanda vital dalam rentang normal
NIC
Airway Management :
1.    Buka jalan nafas, gunakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
2.    Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
3.    Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
4.    Pasang mayo bila perlu
5.    Lakukan fisioterapi dada
6.    Keluarkan secret dengan batuk atau suction
7.    Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
8.    Lakukan suction pada mayo
9.    Berikan bronkodilator bila perlu
10.Berikan pelembab udara
11.Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan
12.Monitor espirasi dan status O2

Respiratory Monitoring
1.    Monitor rata-rata kedalaman, irama dan usaha espirasi
2.    Catat pergerakan dada, amati kesimetrisan, penggunaan otot tambahan, retraksi otot supraclavicular dan intercostal
3.    Monitor suara nafas seperti dengkur
4.    Monitor pola nafas : bradipnea, takipnea, kusmaul, hiperventilasi, cheyne stokes, biot
5.    Catat lokasi trakea
6.    Monitor kelelahan otot diafragma (gerakan paradoksis)
7.    Auskultasi suara nafas, catat area penurunan / tidak adanya ventilasi atau suara tambahan
8.    Tentukan kebutuhan suction dengan mengauskultasi crakles dan ronkhi pada jalan nafas utama
9.    Auskultasi suara paru setelah tindakan untuk mengetahui hasil

2
Penurunan cardiac output b/d gangguan stroke volume (preload, afterload, kontraktilitas)
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x 24 jam klien tidak mengalami penurunan cardiac output, dengan kriteria :
-       Tanda vital dalam rentang normal (TD, Nadi, RR)
-       Dapat mentoleransi aktivitas, tidak ada kelelahan
-       Tidak ada edema paru, perifer, dan tidak ada asites
-       Tidak ada penurunan kesadaran
NIC
Cardiac Care
1.    Evaluasi adanya nyeri dada (intensitas, lokasi, durasi)
2.    Catat adanya disritmia jantung
3.    Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac output
4.    Monitor status kardiovaskuler
5.    Monitor status pernafasan yang menandakan gagal jantung
6.    Monitor abdomen sebagai indikator penurunan perfusi
7.    Monitor balance cairan
8.    Monitor adanya perubahan tekanan darah
9.    Monitor respon klien terhadap efek pengobatan anti aritmia
10.      Atur periode latihan dan istirahat untuk menghindari kelelahan
11.Monitor toleransi aktivitas pasien
12.      Monitor adanya dispneu, fatigue, takipneu, dan ortopneu
13.      Anjurkan pasien untuk menurunkan stress

Vital Sign Monitoring
1.    Monitor TD, Nadi, Suhu, dan RR
2.    Catat adanya fluktuasi tekanan darah
3.    Monitor vital sign saat pasien berbaring, duduk dan berdiri
4.    Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
5.    Monitor TD, Nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas
6.    Monitor kualitas dari nadi
7.    Monitor adanya pulsus paradoksus
8.    Monotor adanya pulsus alterans
9.    Monitor jumlah dan irama jantung
10.Monitor bunyi jantung
11.Monitor frekuensi dan irama pernafasan
12.      Monitor suara paru
13.      Monitor pola pernafasan abnormal
14.      Monitor suhu, warna dan kelembaban kulit
15.      Monitor sianosis perifer
16.      Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
17.      Identifikasi penyebab dan perubahan vital sign

3
Nyeri akut b/d agen injuri fisik
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x 24 janm nyeriklien berkurang, dengan kriteria :
-       Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri)
-       Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan managemen nyeri
-       Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi, dan tanda nyeri
-       Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
-       Tanda vital dalam rentang normal


NIC
Pain Management
1.    Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif ( lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,kualitas dan faktor pesipitasi)
2.    Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan
3.    Ginakan teknik komunikasi teraipetik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien
4.    Evaluasi pengalaman nyeri masa lalu
5.    Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan
6.    Ajarkan tentang teknik pernafasan / relaksasi
7.    Berikan analgetik untuk menguranggi nyeri
8.    Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
9.    Anjurkan klien untuk beristirahat
10.      Kolaborasi dengan dokter jika keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil

Analgetic Administration
1.    Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis dan frekuensi
2.    Cek riwayat alegi
3.    Monitor vital sign sebelumdan sesudah pemberian analgetik pertama kali
4.    Berikan analgetik tepat waktu terutama saat nyeri hebat
5.    Evaluasi efektifitas analgetik, tanda dan gejala (efak samping)


4
Intoleransi aktivitas b/d fatigue
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x 24 jam klien tidak mengalami intoleransi aktivitas, dengan kriteria :
-       Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, Nadi, dan RR
-       Mampu melakukan aktivitas sehari – hari secara mandiri
NIC
Energy Management
1.    Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas
2.    Dorong pasiem untuk mengungkapkan perasaan terhadap keterbatasan
3.    Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan
4.    Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat
5.    Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan
6.    Monitor respon kardiovaskuler terhadap aktivitas
7.    Monitor pola tidur dan lamanya tidur / istirahat pasien

Activity Therapy
1.    Kolaborasi dengan tenaga rehabilitasi medik dalam merencanakan program terapi yang tepat.
2.    Bantu pasienuntuk mengidentivikasi aktivitas yang mampu dilakukan
3.    Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan sosial
4.    Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan
5.    Bantu untuk mendapatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek
6.    Bantu untuk mengidentivikasi aktivitas yang disukai
7.    Bantu pasien/ keluarga untuk mengidentivikasi kekurangan dalam beraktivitas

5
Kurang pengetahuan tentang penyakit b/d kurangnya informasi
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam pengetahuan klien bertambah tentang penyakit, dengan kriteria :
-       Pasien dan keluarga menyatakan pemahamannya tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan
-       Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar
-       Pasien dan keluarga menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat
NIC
Teaching : disease Process
1.    Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik
2.    Jelaskan patofisiologi dari penyakit, dengan cara yang tepat
3.    Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit
4.    Gambarkan proses penyakit
5.    Identivikasi kemungkinan penyebab
6.    Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat
7.    Hindari harapan kosong
8.    Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien
9.    Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi dimasa yang akan datang atau pengontrolan penyakit
10.      Diskusikan pilihan terapi dan penanganan
11.      Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion
12.      Instruksikan pasien mengenali tanda dan gejala untuk melap[orkan pada pemberiperawatan kesehatan, dengan cara yang tepat







BAB III
KESIMPULAN

A.  Kesimpulan

Infark Miocard adalah proses rusaknya jaringan jantung karena adanya penyempitan atau sumbatan pada arteri koroner sehingga suplai darah pada jantung berkurang yang menimbulkan nyeri yang hebat pada dada.
Serangan jantung biasanya terjadi jika suatu sumbatan pada arteri koroner


DAFTAR PUSTAKA

Amin, H. Z. (2007). Terapi Stem cell untuk Infark Miokard Akut. INFARK MIOKAT AKUT, 18.
SILVIANA, F. (2005). IMA (Infark Miokard Akuta), (00700037), 7.
Corwin,Elizabeth J.2009.Buku saku Patofisiologi.Jakarta:EGC
Price,Sylvia A.dkk. 2006.Patofisiologi. Jakarta:EGC
Udjianti,Wajan Juni.2010.Keperawatan Kardiovaskuler.jakarta:Salemba medika